Sejarah Durung



Sejarah Gampong Durung

A. Latar Belakang Sejarah

Sejarah Gampong Durung merupakan perpaduan antara bukti sejarah tertulis, peninggalan fisik yang masih dapat dijumpai hingga saat ini, dan tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. Hingga saat ini belum ditemukan dokumen yang dapat menjelaskan secara pasti kapan Gampong Durung mulai terbentuk sebagai sebuah pemerintahan gampong yang memiliki struktur pemerintahan sebagaimana dikenal sekarang. Namun demikian, keberadaan nama gampong ini telah tercatat dalam dokumen sejarah pada masa kolonial Belanda.

Salah satu bukti tertulis mengenai keberadaan Gampong Durung terdapat pada peta karya L. F. M. Schulze yang dimuat dalam buku Atjeh in 1896. Dalam peta tersebut, nama gampong ditulis sebagai Gleh Doeroeng. Penulisan tersebut mengikuti ejaan Belanda pada masa itu, di mana huruf \\\"oe\\\" dibaca \\\"u\\\", sehingga dalam ejaan bahasa Indonesia menjadi Durung. Keberadaan nama tersebut menunjukkan bahwa Gampong Durung telah dikenal sebagai suatu kawasan setidaknya sejak akhir abad ke-19.

B. Asal-Usul Nama Durung

Menurut penuturan para tetua masyarakat, nama Durung berasal dari bahasa Aceh, yaitu gabungan kata Doe atau Du yang berarti merunduk, menunduk, tiarap, atau bergerak sambil merangkak, dan kata Rung yang berarti punggung. Sementara itu, kata Gleh berarti bukit.

Penamaan tersebut diyakini berkaitan dengan kondisi kawasan pada masa lalu. Masyarakat yang melintasi jalur pertahanan di kawasan tersebut harus berjalan sambil merundukkan badan agar tidak terlihat oleh musuh yang datang dari arah laut. Tradisi lisan inilah yang kemudian menghubungkan nama Durung dengan cara bergerak sambil merunduk ketika melewati jalur pertahanan pesisir.

C. Kawasan Strategis Jalur Pesisir

Secara geografis, Gampong Durung berada pada jalur pesisir yang menghubungkan Pelabuhan Malahayati di Krueng Raya dengan Kutaraja. Jalur ini sejak dahulu diyakini memiliki nilai strategis, baik sebagai jalur perdagangan, perjalanan masyarakat maupun sebagai kawasan pertahanan.

Menurut tradisi lisan masyarakat, setelah melewati Gampong Ladong dari arah Lhok Krueng Raya, memasuki wilayah Gampong Durung, tepatnya di Dusun Garot, terdapat sebuah sistem pertahanan berupa parit yang membentang sejauh kurang lebih satu kilometer di sepanjang kawasan pesisir.

Parit tersebut bukan sekadar saluran air, melainkan diyakini sebagai jalur pertahanan. Masyarakat yang melaluinya harus bergerak sambil merundukkan badan agar tidak terlihat dari arah laut. Di bagian tengah jalur tersebut terdapat sebuah pos pertahanan yang dikenal dengan nama \\\"Sikurok/bungker\\\", kemudian setelah melewati pos tersebut parit kembali berlanjut hingga ke bagian berikutnya. 

Hingga kini, masyarakat masih mengenal lokasi bekas parit tersebut sebagai bagian dari sejarah Gampong Durung.

D. Madat, Cot Riwat dan Perkembangan Dakwah

Di sebelah kawasan Dusun Garot terdapat sebuah sungai kecil yang pada masa sekarang merupakan aliran air mati, namun pada musim hujan airnya masih dapat mengalir hingga ke laut. Di sekitar kawasan tersebut menurut cerita masyarakat dahulu terdapat sebuah tempat persinggahan dan pasar bagi masyarakat yang melakukan perjalanan dari Pelabuhan Malahayati menuju Kutaraja maupun sebaliknya. Kawasan tersebut dikenal dengan nama Madat.

Menurut tradisi lisan, pada masa berikutnya seorang ulama menetap di kawasan tersebut untuk berdakwah. Nama asli ulama tersebut tidak lagi diketahui, namun masyarakat mengenalnya sebagai Teungku Cot Riwat.

Setelah beliau wafat, makamnya dibuat di atas sebuah cot atau gundukan tanah. Di atas makam tersebut tumbuh sebatang pohon Riwat (Bak Riwat). Sejak saat itulah masyarakat mulai mengenal kawasan tersebut dengan nama Cot Riwat, yang lambat laun menggantikan penyebutan Madat.

Perubahan nama tersebut menunjukkan bagaimana pengaruh dakwah Islam tidak hanya membentuk kehidupan masyarakat, tetapi juga memengaruhi identitas suatu kawasan.

E. Kuta Dianjong sebagai Kawasan Pertahanan

Beberapa ratus meter dari kawasan Cot Riwat terdapat kawasan yang dikenal dengan nama Kuta Dianjong. Menurut tradisi lisan masyarakat, kawasan ini dahulu merupakan pos pertahanan para pejuang Aceh.

Di lokasi tersebut hingga sekarang masih terdapat reruntuhan benteng yang diyakini sebagai peninggalan masa pertahanan Aceh. Keberadaan benteng tersebut menjadi salah satu bukti fisik yang memperkuat cerita masyarakat mengenai pentingnya kawasan pesisir Gampong Durung dalam sistem pertahanan Aceh pada masa lalu.

Dusun Kuta Dianjong berbatasan langsung dengan Dusun Mata Ie. Di kawasan Mata Ie terdapat lokasi yang dikenal sebagai Ujong Batee, yang menurut penuturan masyarakat merupakan tempat pendaratan pasukan penjajah dari arah laut.

F. Awal Terbentuknya Permukiman

Menurut tradisi lisan masyarakat, penduduk yang kemudian menetap di Gampong Durung sebagian besar berasal dari Gampong Lamnga, sedangkan sebagian lainnya berasal dari Gampong Neuheun.

Setelah menetap di kawasan Durung, mereka mulai membuka hutan dan mengolah lahan menjadi areal pertanian serta peternakan. Mata pencaharian utama masyarakat pada masa itu adalah bertani dan beternak.

Salah satu kawasan yang pertama dibuka adalah Dusun Garot, yang pada masa lalu dikenal sebagai kawasan yang dipenuhi tanaman Garot berduri sehingga masyarakat kemudian menamainya Garot.

Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan berkembangnya kehidupan sosial ekonomi masyarakat, permukiman tersebut terus berkembang hingga akhirnya membentuk satu kesatuan masyarakat yang kemudian dikenal sebagai Gampong Durung.

Hingga saat ini belum diketahui secara pasti kapan Gampong Durung mulai terbentuk sebagai pemerintahan gampong yang memiliki struktur pemerintahan tersendiri. Keterbatasan sumber tertulis menyebabkan informasi mengenai proses pembentukannya lebih banyak diwariskan melalui tradisi lisan masyarakat.

G. Penutup

Meskipun sejarah awal pembentukan pemerintahan Gampong Durung belum dapat diketahui secara pasti, keberadaan nama Gleh Doeroeng dalam peta kolonial Belanda tahun 1896 membuktikan bahwa kawasan ini telah dikenal sejak akhir abad ke-19. Tradisi lisan masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi, ditambah dengan keberadaan peninggalan fisik seperti bekas parit pertahanan, lokasi Sikurok, makam Teungku Cot Riwat, serta reruntuhan benteng di Kuta Dianjong, merupakan kekayaan sejarah yang memiliki nilai penting bagi masyarakat Gampong Durung.

Oleh karena itu, seluruh peninggalan sejarah dan cerita yang hidup di tengah masyarakat perlu didokumentasikan, diteliti, dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas Gampong Durung, sehingga dapat diwariskan kepada generasi yang akan datang sebagai warisan sejarah, budaya, dan kearifan lokal.

 





Durung

Alamat
Jl. Laksamana Malahayati - Krueng Raya Km.19,5 Gampong Durung 23381
Phone
Telp. 0651 - 7554635, Fax. 0651 - 7554636
Email
[email protected]
Website
durung.sigapaceh.id

Kontak Kami

Silahkan Kirim Tanggapan Anda Mengenai Website ini atau Sistem Kami Saat Ini.

Total Pengunjung

32.049